Hoaks 7 Kontainer Surat Jadikan KPU Tak dipercaya Warga

Sigit Joyowardono, Kepala Biro Hukum Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI menyebutkan peradaran informasi tentang adanya 7 kontainer yang isinya surat suara tercoblos di Tanjung Priok adalah bentuk provokasi pada masyarakat luas saja.

Bentuk Provokasi, Menurut KPU

Hal ini pasalnya disampaikan oleh Sigit ketika bersaksi di dalam sidang hoaks 7 kontainer surat suara tercoblos untuk terdakwa, Bagus Buwana Putra (BBP) yang disebut-sebut Ketua Umum Dewan Koalisi Relawan Nasional (Kornas) Prabowo, tepatnya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, hari Kamis (11/4).

“Ini adalah bentuk provokasi kepada masyarakat, sehingga mereka yang menelan (informasi) ini mentah-mentah tak memberi kepercayaan pada KPU selaku penyelenggara pemilu,” kata Sigit.

Faktanya, menurut Sigit sendiri, KPU sama sekali belum mencetak surat suara. Dan pencetakannya sendiri baru dijadwalkan tanggal 16 Januari 2019 sampai dengan 24 Maret 2019. Sementara informasi tersebut muncul di tanggal 2 Januari 2019.

“Berita tersebut tanggal 2 Januari, dan jangankan mengirim surat suara, mencetak saja belum, tanda tangan juga belum,” katanya lagi. Bahkan, menurutnya lagi, KPU baru saja berencana mengundang tim masing-masing pasangan calon dalam pilihan presiden dan juga sejumlah pimpinan partai politik untuk persetujuan dummy atau pun tiruan bentuk surat di tanggal 4 Januari 2019. “Kemudian proses pencetakan surat yang diawali tanggal 16 Januari 2019 sehingga rasanya tak pas ada surat suara yang sudah tercoblos,”katanya lagi.

Sigit sendiri pertama kalinya mengetahui informasi togel hk itu dari pesan singkat yang beredar di grup WhatsApp KPU. Ia juga menerima sebuah rekaman yang mana diduga isinya surat terdakwa yang mana menyebutkan ada tujuh container yang isinya surat suara yang sudah tercoblos di Tanjung Priok. Namun belakangan diketahui bahwa suara itu juga jadi bukti untuk KPU untuk melaporkan ke kepolisian.

Pemimpin KPU dan juga sejumlah pihak ketika itu juga langsung mendatangi lokasi itu. Akan tetapi sampai di sana ternyata tidak ada container yang dimaksudkan itu. “Setelah dicek, ternyata tidak ada sama sekali. Itu lah yang kemudian jadi dasar kami membawa (kasus ini) ke penegak hukum,” paparnya.

BBP sebelumnya didakwa sudah membuat keonaran dikarenakan penyebaran berita bohong atau pun hoaks 7 kontainer surat suara sudah tercoblos di Pelabuhan Tanjung Priok.

Jaksa sendiri mengatakan bahwa terdakwa secara sengaja menyebarkan hoaks itu untuk Paslon nomor urut 01 pada tanggal 2 Januari 2019. BPP juga menyebutkan informasi lewat akun Twitternya dan juga voice note ke grup WA sebagai salah satu upaya yang bisa menyebabkan keonaran yang beredar di masyarakat.

Terdakwa Hoaks Pose Salam 2 Jari Sebelum Sidang

Sementara itu tersangka kasus penyebaran hoaks adanya 7 buah container surat suara yang telah tercoblos, Bagus Bawana Putra (BBP) sempat berpose salam 2 jari dulu sebelum dirinya menjalani sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, hari Kamis (4/4) lalu.

“Siap (menjalani sidang),” katanya dengan pose salam 2 jari.

BPP juga menegaskan bahwasanya dirinya tak menginisiasi penyebaran hoaks itu. Ia lalu mengklaim pemilik suara di rekaman yang beredar tentang 7 kontainer kotak suara merupakan seorang petinggi Lembaga. “(Rekaman itu) suara seorang petinggi Lembaga bla bla bla (enggan menyebutkannya) yang saya sudah kenal lama yang memang sengaja menjebak saya,” ujarnya lagi. Hal itu lah yang berkali-kali dilontarkannya di dalam persidangan yang ia jalani.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *